Upaya Guru Matematika dalam Memelihara Pengetahuan Global dalam Perencanaan Pembelajaran

Upaya Guru Matematika dalam Memelihara Pengetahuan Global dalam Perencanaan Pembelajaran

 

Perkembangan dunia abad 21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi kehidupan. Teknologi menghubungkan dunia yang melampaui sekat-sekat geografis sehingga dunia menjadi tanpa batas. Teknologi transportasi udara memberikan kemudahan menempuh perjalanan panjang. Melalui media televisi, kejadian di suatu tempat dapat secara langsung diketahui dan dilihat di tempat lain yang berjarak sangat jauh pada waktu bersamaan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet memberi kemudahan pengiriman uang pada waktu yang sangat singkat, bahkan real time. Perkembangan teknologi menjadikan terjadinya perubahan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja.

Begitupun dalam dunia pendidikan tidak terlepas dari pengaruh perkembangan iptek. Misalnya belajar dapat dilakukan di mana saja tanpa harus berada di suatu tempat tertentu dan kapan saja, serta materi yang dipelajari bisa diperoleh bukan hanya dari buku teks saja tapi bisa diperoleh lewat internet. Bahkan materi yang diperoleh lewat internet mungkin saja lebih luas dan tidak terbatas karena melalui internet berbagai materi bahkan suatu materi bisa diperoleh dengan penyajian dan sudut pandang yang berbeda-beda sehingga lebih memperkaya lagi.

 

Guru di era global adalah guru yang mempunyai tugas memberikan pendidikan bermutu secara profesional. Wardiman Djojonegoro dalam konteks ini pernah menyatakan dalam makalahnya bahwa bangsa kita menyiapkan diri untuk memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Ciri SDM yang berkualitas tersebut adalah memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara profesional dengan orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian. Sebagai tenaga pendidik, guru sebagai salah satu di antara SDM di bidang pendidikan tentunya harus mempunyai kualitas yang baik yang sesuai dengan yang dibutuhkan dan diinginkan baik oleh pemerintah ataupun masyarakat bahkan oleh peserta didik sekalipun.

 

Menurut Rotherdam & Willingham (2009) dari sebuah postingan menyatakan bahwa kesuksesan seorang siswa tergantung pada kecakapan abad 21, sehingga siswa harus belajar untuk memilikinya. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi kecakapan abad 21 meliputi : berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi. Berpikir kritis berarti siswa mampu menyikapi ilmu dan pengetahuan dengan kritis, mampu memanfaatkan untuk kemanusiaan. Trampil memecahkan masalah berarti mampu mengatasi permasalahan yang dihadapinya dalam proses kegiatan belajar sebagai wahana berlatih menghadapi permasalahan yang lebih besar dalam kehidupannya. Ketrampilan komunikasi merujuk pada kemampuan mengidentifikasi, mengakses, memanfaatkan dan memgoptimalkan perangkat dan teknik komunikasi untuk menerima dan menyampaikan informasi kepada pihak lain. Terampil kolaborasi berarti mampu menjalin kerjasama dengan pihak lain untuk meningkatkan sinergi. Sedang menurut National Education Association untuk mencapai sukses dan mampu bersaing di masyarakat global, siswa harus ahli dan memiliki kecakapan sebagai komunikator, kreator, pemikir kritis, dan kolaborator.

 

Dalam memenuhi tuntutan dunia pendidikan melalui proses pembelajaran di era global sekarang ini guru  khususnya guru matematika harus  mengetahui dan memahami  ilmu pengetahuan pokok sesuai bidangnya dan ilmu penunjang serta keterampilan apa saja yang harus dikuasai supaya dalam menjalankan tugas sebagai guru matematika yang proesional tidak ketinggalan jaman atau dapat mengikuti perubahan-perubahan yang  sangat pesat yang terjadi saat ini dalam dunia pendidikan khususnya.

 

Guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Kompetensi guru sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 meliputi 4 kompetensi yaitu; kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut: 

 

1. Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-kurangnya meliputi (1) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, (2) pemahaman terhadap peserta didik, (3) pengembangan kurikulum/silabus, (4) perancangan pembelajaran, (5) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran, (7) evaluasi proses dan hasil belajar, dan (8) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. 

 

2. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup (1) berakhlak mulia, (2) arif dan bijaksana, (3) mantap, (4) berwibawa, (5) stabil, (6) dewasa, (7) jujur, (8) mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, (9) secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan (10) mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. 

 

3. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-kurangnya meliputi (1) berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat, (2) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional,(3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan. 

 

4. Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan (1) materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan (2) konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu. silahkan baca selengkapnya disini Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru.

 

Dalam (Mohamad Surya 2015:357), mengembangkan proesionalitas guru (termasuk dosen) merupakan hal yang amat strategis dalam upaya mewujudkan reformasi pendidikan nasional. Dengan merujuk pada model “Growth with character” yang dikembangkan oleh Hermawan Kartajaya berdasarkan pengalamannya, berikut ini akan dikemukakan model pengembangan proesionalitas yang berbasis exelence (keunggulan), profesionalisme, dan etika. Dengan menggunakan model tersebut, proesionalitas dapat dikembangkan dengan mendinamiskan tiga pilar utama yaitu :

 

1. Excellence atau keunggulan, ang mempunyai makna bahwa seorang proesional harus memiliki keunggulan dalam bidang dan dunianya. Ada empat hal yang esensial dalam keunggulan ini yaitu: (1) Commitmen atau purpose, yaitu memiliki komitmen untuk senantiasa berada dalam koridor tujuan dalam melaksanakan kegitannya demi mencapai keunggulan: (2) Opening your git atau ability, yaitu memiliki kecakapan dalam bidangnya baik kecakapan potensial atau terkandung maupun kecakapan aktual atau nyata; (3) Being the first and the best ou can be atau motivation, yaitu memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi yang pertama dan terbaik dalam bidangnya; (4) Continuous improvement, yaitu senantiasa melakukan perbaikan secara terus menerus.

 

2. Profesionalisme, yaitu sikap mental yang secara intrinsik menjiwai keseluruhan pola-pola profesionalitas baik internal maupun eksternal. Sikap mental ini ditunjukkan dengan “Passion” atau semangat atau keinginan kuat atau kerinduan yang tertuju pada beberapa hal. Ada empat “passion” sebagai pilar profesionalisme yaitu: (1) Passion for knowladge, yaitu semangat untuk senantiasa menambah pengetahuan baik secara formal ataupun informal. (2) Passion for business, yaitu semangat untuk melakukan kegiatan secara sempurna dalam melaksanakan tugas dan misinya; (3) Passion for service, yaitu semangat untuk me mberikan pelayanan yang terbaikterhadap pihak ang menjadi tanggung jawabnya; dan (4) Passion for people, yaitu semangat untuk mewujudkan pengabdian kepada orang lain  atas dasar kemanusiaan.

 

3. Ethical , atau etika yang terwujud  dalam karakter atau watak yang sekaligus sebagai fondasi utama bagi terwujudnya profesionalitas paripurna. Watak atau karakter pada hakikatnya merupakan ciri kepribadian yang berkaitan dengan timbangan nilai moralitas normatif yang berlaku, Kualitas watak seseorang  akan tercermin dalam penampilan kepribadiannya diinjau dari sudut timbangan nilai moral normati. Seseorang dikatakan memiliki kualitas watak yang baik apabila menampilkan peilaku ang sesuai dengan nilai-nilai moral ang berlaku.

 

Dalam etika sekurang-kurangna ada enam unsur karakter ang esensial aitu : (1) truthworthiness, yaitu kejujuran atau dapat dipercaya dalam keseluruhan kepribadian dan prilakuna; (2) responsibility, yaitu tanggung  jawab tehadap dirinya, tugas proesinya, dan lingkungannya; (3) respect, yaitu sikap untuk menghormati siapapun yang terkait langsung atau tidak langsung dalam tugas proesi; (4) fairness, yaitu melaksanakan tugas secara konsekuen sesuai dengan ketentuan yang berlaku; (5) care, yaitu penuh kepedulian terhadap berbagai hal yang terkait dengan tugas profesi; dan (6) citizenship, yaitu menjadi  waganegara yang memahami  seluruh hak dan kewajibannya serta mewujudkannya dalam prilaku proesinya.

 

Kompetensi proesional yang harus dimiliki guru khususnya guru matematika dapat menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas. Menurut (Mohamad Surya 2015:360) peningkatan kompetensi proesional dapat dilakukan melalui responsi ang dilakukan dalam bentuk interaksi secaa formal atau informal ang biasanya dilakukan melalui berbagai interaksi seperti pendidikan dan latihan, seminar, lokakarya, ceramah, konsultasi, study banding, penggunaan media, dan forum-forum lainnya. Hal yang dapat menunjang responsi ini adalah apabila para guru berada dalam suasana interaksi sesama guru yang memiliki kesamaan latar belakang dan tugas misalnya MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran).

 

Apa yang dikatakan Prof. Dr. Mohamad Surya tentang responsi adalah benar karena saya sebagai guru matematika mengalaminya. Sebagai guru matematika yang dalam keseharian berada di sekolah melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentunya sering menghadapi kendala-kendala dalam menyampaikan materi kepada peserta didik, baik kendala dalam pengelolaan pesera didik di kelas, kendala dalam pengembangan bahan ajar ataupun kendala dalam perencanaan pembelajaran. Kendala-kendala yang dirasakan pada saat proses pembelajaran di kelas, diutarakan dalam sebuah kegiatan MGMP dan di situlah terjadi diskusi dan tukar pengalaman bagaimana cara mengatasi kendala-kendala yang dihadapi.

 

Pengembangan kurikulum/silabus adalah salah satu kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru matematika. Dalam mengembangkan dan membuat silabus kami guru-guru matematika membuatnya bersama-sama dalam sebuah kegiatan MGMP. Dalam kegiatan ini kami bentuk kelompok-kelompok dan berbagi tugas sesuai dengan level kelas yang dipegang oleh masing-masing guru dan hasilna digabungkan sehingga setiap guru mendapatkan silabus ang lengkap.

 

Selain pengembangan silabus, penyusunan perencanaan pembelajaran merupakan salah satu  kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru. Dalam penyusunan perencanaan pembelajaran banyak sekali hal yang harus dikuasai guru karena dalam perencanaan pembelajaran terdapat indikator-indikator, tujuan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran, materi pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran, instrumen penilaian, teknik penilaian dll.

 

Dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran kami guru matematika berpedoman pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016. Berikut adalah prinsip-prinsip pembelajaran yang tertulis dalam permendikbud tersebut:

1. Peserta didik mencari tahu;

2. Pembelajaran berbasis aneka sumber belajar;

3. Pembelajaran berbasis proses untuk penguatan pendekatan ilmiah;

4. Pembelajaran berbasis kompetensi;

5. Pembelajaran terpadu;

6. Pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

7. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilanaplikatif;

8. Pembelajaran yang menjaga pada keseimbangan antara keterampilanfisikal (hardskills) dan  

    keterampilan mental (softskills);

9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaanpeserta didik sebagai  

    pembelajar sepanjang hayat;

10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung  

    tulodo), membangun kemauan (ingmadyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas

    peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;

12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah

      peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;

13. Pembelajaran yang memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan  

      efisiensi dan efektivitas pembelajaran;dan

14. Pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan individual dan latar belakang budaya   

      peserta didik.

 

Proses pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip di atas harus secara sadar diciptakan oleh guru untuk pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip di atas adalah Pendekatan Pembelajaran Kontekstual yang memiliki tujuh

komponen utama pembelajaran, yakni kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), danpenilaian autentik (authentic assessment). Pendekatan Pembelajaran Kontekstual ini akan memfasilitasi penguatan proses berpikir ilmiah yang disarankan oleh Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

16

Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk merealisasikan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual seperti yang diterangkan di atas antara lain adalah Pembelajaran dengan Metode Ilmiah, Inquiry/discovery Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project- Based Learning), dan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based

Learning). Selain itu, guru juga dapat menggabungkan beberapa fitur yang saling melengkapi dari berbagai metode untuk pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Metode penggabungan ini dikenal dengan istilah Metode Eklektik.

 

Pembelajaran yang efektif harus melalui tahap perencanaan yang baik. Sesuai dengan Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016, perencanaan pembelajaran harus mengacu pada Standar Isi dan meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan

Sekolah Menengah Pertama 17sumber, perangkat penilaian pembelajaran, dan  skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran

yang digunakan, dan komponen beserta format Silabus dan RPP disesuaikan dengan perundangan yang berlaku. Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang harus diperhatikan semaksimal mungkin dalam penyusunan RPP seperti yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016:(1). Perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat,  potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta  didik; (2). Partisipasi aktif peserta didik; (3). Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian; (4). Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai  bentuk tulisan ; (5). Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi; (6). Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiata pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu  

keutuhan pengalaman belajar; (7). Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas  aspek belajar, dan keragaman budaya; (8). Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi.

 

Perencanaan pembelajaran yang baik harus dilaksanakan dengan baik pula. Kurikulum 2013  mengharuskan pelaksanaan pembelajaran dibagi menjadi tiga tahap besar, yaitu pembukaan, kegiatan inti, dan penutupan. Dalam pembukaan guru diwajibkan melakukan hal- hal berikut:(1). menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; (2). memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik dan

jenjang peserta didik; (3). mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan

sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; (4). menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan (5). menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.

 

Penumbuhan budi pekerti secara terintegrasi dalam pembelajaran dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung baik di dalam maupun di luar kelas. Selama proses pembelajaran, siswa berinteraksi dengan bahan ajar, dengan guru, dan antar sesama siswa melalui berbagai

aktivitas belajar. Melalui interaksi dengan substansi bahan ajar, siswa memperoleh pengetahuan tentang nilai (moral knowing). Sementara itu, melalui interaksinya dengan guru dan sesama siswa dalam berbagai kegiatan pembelajaran, para siswa akan memperoleh pengetahuan tentang nilai-nilai moral yang baik lebih mendalam dan meresapi penting- nya nilai-nilai (moral feeling) serta tumbuh perilaku sehari-hari yang dilandasi oleh nilai-nilai budi pekerti yang baik tersebut (moral action).

 

Dalam Kurikulum 2013 edisi revisi pada penyusunan RPP selain diambah penguatan pendidikan karakter (PPK) juga ditambah dengan literasi dan  kecakapan abad 21 yang meliputi : berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi.

 

Dalam penyusunan RPP yang sesuai dengan kurikulum 2013 edisi revisi dan dalam pelaksanaa proses pembelajaran kami guru-guru kembali bergabung dalam kegiatan MGMP mendiskusikan di manakah diletakannya Pendidikan Penguatan Karakter dan bentuknya seperti apa. Dari kegiatan MGMP Kota Bandung ini kami mendapatkan kesepakatan di antaanya:(1) Dalam pembelajaran di kelas supaya siswa semangat dilakukan ice breaking yang bisa dilaksanakan di awal pembelajaran, di tengah pembelajaan atau di akhir pembelajaran atau sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan ice breaking bisa berupa nyanyi, game atau menari; (2) Melakukan pemeriksaan kebersihan kelas sebelum pembelajaran dimulai; (3) Menyanyikan Lagu Indonesia Raya atau lagu kebangsaan di awal jam pelajaran salah satu implementasi PPK; (4)Membaca buku 15 menit sebelum pembelajaran jam pertama dalam pelaksanaan gerakan literasi.

 

Dalam pengembangan kecakapan abad 21 atau penyusunan RPP abad 21, kami guru-guru matematika sepaka untuk memasukkan soal-soal HOTS ke dalam RPP . Apa dan seperi apakah soal HOTS itu ? Selain kami eksplorasi sendiri kami dalam kegiatan MGMP Kota Bandung mengundang nara sumber yang menguasai tentang materi HOTS supaya kami bisa memahami dan bisa membuatnya untuk diimplementasikan di sekolah atau di kelas khususnya.  Higher Order Thinking Skill (HOTS) yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai kemampuan berfikir tingkat tinggi merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran dimana siswa diajarkan untuk berfikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif. Dari pelatihan materi HOTS diperoleh pemahaman dan keterampilan membuat soal HOTS yang kemudian disisipkan dalam RPP ataupun dalam kegiatan di kelas.

 

Selain materi HOTS ada materi lain yang harus dikuasai guru matematika yaitu seperti pembuatan media atau bahan ajar. Kami guru matematika harus bisa membuat media atau bahan ajar yang menarik untuk siswa supaya ada variasi dalam penyampaian materi dan tidak membosankan untuk siswa. Untuk hal ini kami dalam kegiatan MGMP Kota Bandung mengadakan pelatihan tentang Power Point, Video Scribe, Geogebra, dan aplikasi matematika lainnya. Terakhir kali pelatihan mengenai aplikasi matematika kami para guru matematika sangat takjub dengan adanya aplikasi matematika karena dengan aplikasi matematika kami memprediksi kegiatan pembelajaran bisa lebih efektif dan efisien misalnya dalam materi operasi bilangan pecahan, persamaan garis lurus, Sistem Persamaan Linear Dua variabel, Persamaan Kuadrat, dan lainnya dalam proses pembelajarannya bisa langsung menggunakan aplikasi Geogebra dan aplikasi matematika lainnya. Kelebihannya penggunaan aplikasi maemaika seperti Geogebra bukan hana guru ang bisa menggunakannya tapi siswapun bisa menggunakannya sendiri dengan cara mendownload aplikasi tersebut dan dengan begitu guru bisa menggunakan model pembelajaran Project Based Learning dalam penggunaan Geogebra oleh siswa dan hal ini dapat memotivasi siswa untuk menyelidiki dan mengeksplor diri lebih jauh dengan aplikasi tersebut.

 

Dalam perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, kami guru matematika khususnya

tidak menutup mata bahkan kami para guru matematika menyambut baik dengan perkembangan sekolah digital misalnya di mana sekolah menggunakan aplikasi atau web dalam sistem penilaian baik penilaian harian maupun penilaian semester bahkan Ujian Nasional Berbasis Komputer pun kami sambut baik.

 

Dalam hal sistem penilaian kami guru matematika mengadakan pelatihan di MGMP khusus untuk mata pelajaran matematika dan aplikasi ang pertama kali kami gunakan adalah Edmodo. Dengan aplikasi ini pelaksanaan penilaian menjadi lebih efektif karena kami tidak perlu repot-repot memeriksanya tetapi otomatis begitu selesai siswa mengerjakan tes, nilai langsung muncul.

 

Sekarang aplikasi untuk sistem penilaian sudah berkembang pesat bukan hanya Edmodo tapi ada Quipper School, ada CBT, dan WEB, dan lainnya. Di sekolah kami sekarang untuk penilaian menggunakan CBT dan untuk Raport menggunakan WEB sekolah. Penggunaan WEB dan CBT di sekolah melalui beberapa kali pelatihan dan kami rasakan manfaat dari penggunaan aplikasi penilaian. Selain aplikasi penilaian kami pun menggunakan aplikasi untuk menganalisis soal-soal tidak manual lagi seperti sebelumnya, dan hal ini sangat membantu kami karena dapat menghemat waktu dan energi.

 

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat kita artikan bahwa guru matematika sebagai  guru yang

profesional harus memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru matematika dalam memelihara pengetahuan Global dalam perencanaan pembelajaran yaitu:

1.      Menyikapi dengan positif perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang begitu pesat dengan cara mempelajari melalui pelatihan-pelatihan baik di MGMP ataupun di luar MGMP atau eksplorasi sendiri dan menggunakannya.

2.      Mempelajari isi dari Permendikbud atau Undang-Undang yang tekait dengan guru dan kurikulum.

3.      Membuat perencanaan yang baik untuk pembelajaran yang efektif melalui kegiatan MGMP

dengan diawali menganalisis SKL, Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dan penyusunan silabus.

4.      Mengikuti pelatihan-pelatihan baik pelatihan pendalaman materi sepeti materi HOTS maupun pelatihan mengenai aplikasi-aplikasi matematika yang dapat membantu proses pemelajaran menjadi lebih efektif dan efisien serta menggunakannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Kementrian Pendidikan dan Keudayaan (2016). Panduan Pembelajaran Untuk Sekolah Menengah Pertama.

2.      Kementrian Pendidikan dan Keudayaan (2017). Materi Bimbingan Teknis Fasilitator dan Instruktur Kurikulum 2013 Tahun 2017.

3.      Surya, M. (2015). Psikologi Guru: Konsep dan Aplikasi.

4.      http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/21/atantangan-masa-depan-pendidikan-di-indonesia-dan-pendidikan-global-472201.html

5.    https://www.kompasiana.com/.../peran-guru-dalam-era-globalisasi_551140bda33311e...

6.       https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20161114103402-445-172448/kompetensi-apa-yang-harus-dimiliki-seorang-guru/



 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                      Yulia Nursari