PENERAPAN PEMBELAJARAN ABAD 21 DALAM KURIKULUM 2013 DAPAT MENINGKATKAN LITERASI MATEMATIKA SISWA

A.    PENDAHULUAN

 

      Abad 21 merupakan abad pengetahuan di mana informasi dari seluruh penjuru dunia dapat diakses dengan mudah, begitupun komunikasi yang begitu mudah dilakukan walaupun jarak dipisahkan oleh lautan dan samudera, hal ini disebabkan karena perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang begitu pesat. Dengan kemudahan komunikasi dan pengaksesan informasi tersebut menyebabkan perubahan gaya hidup manusia baik di bidang ekonomi, sosial, budaya bahkan pendidikanpun ikut menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi saat ini.

      Keberhasilan manusia dalam keberlangsungan hidup di sepanjang zaman dapat diperoleh melalui pendidikan. Oleh karenanya setiap bangsa dan negara memiliki sistem pendidikan sesuai dengan karakteristik di masing-masing negara. Meskipun Tiap negara mempunyai karakteristik yang berbeda tetapi melalui PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) dengan lembaganya UNESCO mempunyai tujuan pendidikan yang dikenal dengan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan yaitu :  (1) learning to Know, (2) learning to do (3)learning to be, dan (4) learning to live together.

       Pendidikan memiliki peranan yang vital untuk menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan problematika kehidupan yang semakin kompleks. Pendidikan merupakan sarana pencegah resiko, serta alat yang dapat membantu meningkatkan kualitas hidup manusia secara berkelanjutan  menurut (Moretti, G. A. S. & Frandell, T., dalam Hera Nopita Sari, R, 2015 ) . Untuk itu pendidikan saat ini diharapkan mampu mengembangkan siswa untuk berfikir kreatif, fleksibel, memecahkan masalah, ketrampilan berkolaborasi dan inovatif yang dibutuhkan untuk sukses dalam pekerjaan maupun kehidupan (Pasific Pacific Policy Research Center, 21st Century Skills for Students and Teachers, Honolulu: Kamehameha Schools, Research & Evaluation Division, 2010 dalam Hera Nopita Sari, R, 2015 ). Dalam seminanya Rosalia Herawati Nopita Sari mrnyatakan “Pendidikan diharapkan mampu membekali siswa kemampuan untuk menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran wajib diharapkan tidak hanya membekali siswa dengan kemampuan untuk menggunakan perhitungan atau rumus dalam mengerjakan soal tes saja akan tetapi juga mampu

melibatkan kemampuan bernalar dan analitisnya dalam memecahkan masalah sehari-hari. Hal ini sejalan dengan pandangan NCTM (National Council of Teaching Mathematics) yang menjadikan problem solving (Pemecahan Masalah), reasoning and proof (Penalaran dan Pembuktian), communication (Komunikasi) dan representation (Penyajian) sebagai standar proses pada pembelajaran matematika (Reston: NCTM, 2000)”.

        Tuntutan kemampuan siswa dalam matematika tidak sekedar memiliki kemampuan berhitung saja, akan tetapi kemampuan bernalar yang logis dan kritis dalam pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini tidak semata-mata masalah yang berupa soal rutin akan tetapi lebih kepada permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Kemampuan matematis yang demikian dikenal sebagai kemampuan literasi matematika. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), kemampuan literasi matematika siswa di Indonesia masih rendah (Paris: OECD Publishing, 2014).  Indonesia berada di bawah rata-rata internasional. Tidak hanya itu, mayoritas siswa hanya dapat menyelesaikan masalah dibawah level 2. Melihat fakta terebut, kemampuan literasi matematika siswa di Indonesia masih perlu untuk ditingkatkan (Hera Nopita Sari, R, 2015)

.     Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan pemerintah melakukan perbaikan-perbaikan dalam rancangan sistem pendidikan nasional yang sebelumnya menggunakan  “UU No. 2 Tahun 1989” kemudian mulai tahun 2003 digunakan “UU No. 20 Tahun 2003”. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 dinyatakan bahwa “Tujuan Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.” Perubahan-perubahan Unadang-undang ini merupakan salah satu bukti pemerintah menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi.

      Begitupun  kurikulum pendidikan yang merupakan bagian dari sistem pendidikan yang digunakan pemerintah mengalami perubahan-perubahan disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Kurikulum yang sekarang digunakan adalah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumya. Kemudian pada tahun 2017 kurikulum 2013 inipun menyesuaikan lagi menjadi kurikulum 2013 edisi revisi. Perubahan –perubahan ini dilakukan tidak lain untuk mencapai tujuan pendidikan yang termasuk di dalamnya yaitu membentuk manusia yang bertaqwa, cerdas, terampil, dan dapat memecahkan segala problematika kehidupan. Dalam kurikulum 2013 edisi revisi ditambahkan di dalamnya pembelajaran abad 21 yang  memiliki empat ciri yaitu; (1) Critical Thinking and Problem Solving, (2) Creativity and Innovation, (3) Communication, dan (4) Collaboration. Pengintegrasian pembelajaran abad 21 ini adalah untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitip.

       Dengan berubahnya kurikulum dan dengan penerapan pembelajaran abad 21 dalam kurikulum yang saat ini digunakan diharapkan dapat  meningkatkan kemampuan  “Literasi Matematikamaka” siswa.

 

B.     Fokus dan Rumusan Masalah

Fokus : Pembelajaan abad 21, Kurikulum 2013, dan Literasi Matematika.

Rumusan masalah : Apakah penerapan pembelajaan abad 21 dalam Kurikulum 2013 dapat meningkatkan Liteasi Matematika Siswa dan Peringkat Indonesia dalam Kompetisi Literasi Matematika PISA?

 

C.    Model Kerangaka Pemikian

 


 

 

 

 

 

 

 


Rounded                                                                                                                                                                                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.    Pembahasan

 

1.      Literasi Matematika

     

      Dari segi bahasa, kata literasi (dalam bahasa inggris literacy) mengandung makna “melek”. PISA 2015 memberikan definisi formal literasi matematika yaitu:

Mathematical literacy is defined as students’ capacity to formulate, employ and interpret mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain and predict phenomena. It assists individuals in recognising the role that mathematics plays in the world and to make the well-founded judgements and decisions needed by constructive, engaged and reflective citizens (OECD, 2016).

      Literasi matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, mengunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan lat matematika untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk yang konstruktif, dan reflektif.

      Matematika di Indonesia merupakan mata pelajaran wajib bagi siswa sekolah dasar dan menengah yang pengukuran dan evaluasina secara nasional dilakukan melalui Ujian Nasional. Di tingkat Intenasional pun ada pengukuran atau evaluasinya, terdapat dua asesmen utama yang menilai kemampuan matematika dan sains siswa, yaitu TIMSS (Trend in International Mathematics and Science Study) dan PISA (Program for International Student Assessment). PISA dilaksanakan secara regular sekali dalam tiga tahun sejak tahun 2000 untuk mengetahui literasi siswa usia 15 tahun dalam matematika, sains, dan membaca. Fokus dari PISA adalah literasi yang menekankan pada keterampilan dan kompetensi siswa yang diperoleh dari sekolah dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam berbagai situasi. ( Abdul Halim Fathani, EduSains Volume 4 Nomor 2; 2016)

      Soal-soal literasi matematika yang diujikan oleh PISA memuat kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah (problem solving), penalaran (reasoning),dan kemampuan komunikasi(communication). Kemampuan-kemampuan  ini terdapat dalam pembelajaran 21 dan tedapat pula dalam prinsip-prinsip pembelajaran pada kurikulum 2013, sehingga secara tidak langsung jika pembelajaran abad 21 dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam kurikulum 2013 dilaksanakan dengan sesungguhna akan meningkatkan kemampuan liteasi matematika siswa.

      Hasil survei yang dilakukan Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil studi PISA tahun 2015 menunjukkan Indonesia baru bisa menduduki peringkat 69 dari 76 negara. Survei ini dilakukan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Analisis yang digunakan oleh OECD berdasarkan pada hasil tes matematika dan ilmu pengetahuan. Mereka menggunakan standar global yang lebih luas menggunakan tes PISA. Tes PISA merupakan studi internasional tentang prestasi membaca, matematika dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Indonesia sendiri telah ikut tes ini sejak tahun 2000. Dalam hasil studi PISA tahun 2015, peningkatan terbesar terlihat pada kompetensi sains, dari 382 poin pada tahun 2012 menjadi 403 poin di tahun 2015. Dalam kompetensi matematika meningkat dari 375 poin di tahun 2012 menjadi 386 poin di tahun 2015. Kompetensi membaca mengalami peningkatan dari 396 di tahun 2012 menjadi 397 poin di tahun 2015. Berikut adalah hasil studi PISA.

     

 

 

 

 

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

      Hasil tersebut menunjukkan bahwa literasi matematika siswa di Indonesia berdasarkan studi internasional masih belum memuaskan. Namun demikian, rendahnya literasi tersebut diukur dengan menggunakan instrumen yang berlaku secara internasional dan tidak secara spesifik disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Misalnya, terdapat butir soal pada studi TIMSS yang menggunakan stimulus mengenai subway (kereta api bawah tanah) yang tidak familiar bagi anak Indonesia. Sedangkan studi PISA menggunakan banyak sekali konteks asing yang belum dikenal oleh siswa kita di pelosok daerah, misalnya skateboard, kereta maglev, ataupun sistem telepon di hotel dan kartu elektronik. ( Abdul Halim Fathani, EduSains Volume 4 Nomor 2; 2016).

      Untuk mengatasi kekurangan penguasaan konteks-konteks di luar yang biasa diberikan sehari-hari di kelas maka guru harus kreatif untuk mencari bahan atau materi yang terkait literasi matematika untuk digunakan dalam pembelajaran. Seiring berkembangnya Teknologi Informasi dan Komunikasi guru harus bisa memanfaatkannya untuk menambah baik materi ataupun soal-soal yang dapat meningkatkan penguasaan literasi matematika siswa.

      OECD (2013a) menyatakan bahwa dalam mengukur kemampuan literasi matematika, PISA mengacu pada tiga domain utama. Ketiga domain tersebut adalah domain konten, domain konteks, dan domain proses.Domain konten mencakup empat hal, yaitu bilangan (quantity), ruang dan bentuk (space andshape), perubahan dan hubungan (change and relationship), dan probabilitas/ketidakpastian (uncertainty) (OECD, 2013b).Domain konteks PISA terbagi menjadi empat hal, yaitu pribadi, pekerjaan, masyarakat, dan ilmiah, literasi dalam konteks matematika adalah kekuatan untuk menggunakan pemikiran matematika dalam memecahkan masalah sehari-hari agar lebih siap menghadapi tantangan kehidupan (Steecey & Turner, 2015). Sedangkan pada domain proses PISA membagi menjadi tiga macam yaitu merumuskan situasi secara matematis; menerapkan konsep, fakta, prosedur, dan penalaran matematika; serta menginterpreasi, menerapkan, dan mengevaluasi hasil matematis (OECD, 2013b). Selain ketiga domain proses tersebut, ada pula komponen-komponen literasi matematika yang perlu diperhatikan, yaitu: communication; mathematizing; representation; reasoningand argument; devising strategies for solving problems, using symbolic, formal, and technical language and operation; dan using mathematics tools (OECD, 2013b).

      Fungsi matematika dalam kehidupan adalah untuk membantu memecahkan masalah dalam kehidupan. Jika komponen-komponen literasi matematika dikuasai siswa maka selain dapat memecahkan masalah sehari-hari yang sederhana, penguasaan literasi matematika dapat membantu memecahkan masalah kehidupan di kemudian hari.

 

 

 

2.      Kurikulum 2013

      Dengan adanya PISA dan melihat perkembangan hasil studi PISA serta melihat perkembangan berbagai bidang baik ekonomi dengan tantangan dunia kerja ang sangat kompetitif, sosial yang begitu besar perubahannya, budaya yang sedikit-sedikit mulai menghilang , IPTEK yang begitu pesat dan pendidikan yang mulai berubah paadigmanya, maka  dengan adanya perubahan kurikulum diharapkan tantangan di era pengetahuan akan dapat teratasi dengan syarat kurikulum yang menambahkan pembelajaran abd 21 tersebut dijalankan dengan sesungguhnya.

      Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 mengatur implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran melalui prinsip-prinsip pembelajaran sebagai berikut:

1. Peserta didik mencari tahu;

2. Pembelajaran berbasis aneka sumber belajar;

3. Pembelajaran berbasis proses untuk penguatan pendekatan ilmiah;

4. Pembelajaran berbasis kompetensi;

5. Pembelajaran terpadu;

6. Pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;

7. Pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilanaplikatif;

8. Pembelajaran yang menjaga pada keseimbangan antara keterampilanfisikal (hardskills)  

dan  keterampilan mental (softskills);

9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaanpeserta didik  

    sebagai  pembelajar sepanjang hayat;

10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso  

      sung  tulodo), membangun kemauan (ingmadyo mangun karso), dan mengembangkan     

      kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);

11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;

12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah

      peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;

13. Pembelajaran yang memanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk   

      meningkatkan   efisiensi dan efektivitas pembelajaran;dan

14. Pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan individual dan latar belakang budaya  

      peserta didik.

      Proses pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip di atas harus secara sadar diciptakan oleh guru untuk pencapaian Standar Kompetensi Lulusan. Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip-prinsip di atas adalah Pendekatan Pembelajaran Kontekstual yang memiliki tujuh komponen utama pembelajaran, yakni kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menyelidiki (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), danpenilaian autentik (authentic assessment). Pendekatan Pembelajaran Kontekstual ini akan memfasilitasi penguatan proses berpikir ilmiah yang disarankan oleh Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016. Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk merealisasikan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual seperti yang diterangkan di atas antara lain adalah Pembelajaran dengan Metode Ilmiah, Inquiry/discovery Learning), Pembelajaran Berbasis Proyek (Project- Based Learning), dan Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning). Selain itu, guru juga dapat menggabungkan beberapa fitur yang saling melengkapi dari berbagai metode untuk pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Metode penggabungan ini dikenal dengan istilah Metode Eklektik.

      Melihat standar kompetensi yang harus dikuasai siswa serta pendekatan-pendekatan dan model-model pembelajaan yang diterapkan dalam kurikulum 2013 terlihat sesuai dengan komponen-komponen dalam literasi matematika yang diujikan di level intenasional oleh TIMSS atau pun PISA.

      Bahkan Kurikulum 2013 edisi revisi yang mengintegrasikan pembelajaran abad 21 melebihi dari komponen-komponen literasi matematika, sehingga diprediksi dengan penerapan kurikulum 2013 edisi revisi dapat meningkatkan penguasaan literasi matematika siswa dan berujung dapat meningkatkan peringkat Indonesia dalam uji literasi matematika tingkat internasional di PISA.

 

3.      Pembelajaran Abad 21

      Saat ini pemerintah memberlakukan  kurikulum 2013 dimana pada kurikulum 2013 ini diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21. Penerapan pemelajaran abad 21 pada kurikulum 2013 ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif.

      Menurut Rudi Mustafa dalam sebuah postingan pada 22 Mei 2017 menyatakan sebagai berikut ini.

Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik berbeda dengan pembelajaran yang berpusat pada pendidik/guru, berikut karakter pembelajaran abad 21 yang sering disebut sebagai 4 C, yaitu:

a.       Communication (Komunikasi)

      Pada karakter ini, peserta didik dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia. Peserta didik diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika menyelesaikan masalah yang diberikan oleh pendidik.

b.      Collaboration (Kerjasama)

      Pada karakter ini, peserta didik menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya; menghormati perspektif berbeda. Peserta didik juga menjalankan tanggungjawab pribadi dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat; menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain.

c.       Critical Thinking and Problem Solving (Berpikir Kritis dan Pemecahan Masalah)

      Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem. Peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menyusun, mengungkapkan, menganalisa, dan menyelesaikan masalah.

d.      Creativity and Innovation (Daya cipta dan Inovasi)

      Pada karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengembangkan, melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain; bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.

      Sehingga pada abad 21 saat ini yang bisa disebut sebagai era pengetahuan, maka  tujuan pendidikannya pun adalah:

1) mempersiapkan orang  dalam dunia pasang surut, dinamis, unpredictable (tidak bisa    

    diramalkan),

2) perilaku yang kreatif,

3) membebaskan kecerdasan individu yang unik, serta

4) menghasilkan inovator.

      Dengan demikian, model  sekolah pada abad ini mengharapkan pendidikan dapat menjadikan individu-individu yang mandiri, sebagai pelajar yang mandiri.

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada keselarasan antara komponen-komponen literasi matematika, pembelajaan abad 21 serta prinsip-prinsip pembelajaran dalam kurikulum 2013, sehingga pembelajaran abad 21 dan kurikulum 2013 dapat menunjang pada penguasaan literasi matematika siswa.

 

E.     Kesimpulan

1.      Dari paparan di atas maka jika pembelajaran abad 21 diterapkan dengan sesungguhnya, akan meningkatkan penguasaan literasi matematika siswa yang berujung pada peningkatan peringkat Indonesia di ajang kompetisi literasi matematika tingkat Intenasional (PISA).

2.      Penerapan kurikulum 2013 edisi revisi secara menyeluruh akan meningkatkan penguasaan liteasi matematika siswa yang berujung pada peningkatan peringkat Indonesia di ajang kompetisi literasi matematika tingkat Intenasional (PISA).

3.      Dari kesimpulan nomor 1 dan nomor 2, maka dapat disimpulkan bahwa “Penerapan pembelajaran abad 21 dan kurikulum 2013 dapat meningkatkan kemampuan literasi matematika siswa dan meningkatkan peringkat Indonesia di ajang kompetisi literasi matematika yang diselenggarakan PISA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DATAR PUSTAKA

1.      Herawati Nopita Sai, R.,Literasi Matematika: Apa, Mengapa dan Bagaimana?”.

Seminar Nasional Matematika Dan Pendidikan Matematika Uny 2015

 

2.      https://www.researchgate.net/publication/313478527

 

3.      OECD, PISA 2012 Assesment and Analytical Framework: Mathematics, Raeding, Science, Problem Solving and Financial Literacy, Paris: OECD Publisher, 2013.

 

4.      https://ainamulyana.blogspot.com › Berita › Pembelajaran

 

5.      Kementrian Pendidikan dan Keudayaan (2016). Panduan Pembelajaran Untuk Sekolah Menengah Pertama.

 

6.      Kementrian Pendidikan dan Keudayaan (2017). Materi Bimbingan Teknis Fasilitator dan Instruktur Kurikulum 2013 Tahun 2017.

 

7.      http://edukasi.kompasiana.com/2012/06/21/atantangan-masa-depan-pendidikan-di-indonesia-dan-pendidikan-global-472201.html

8.      https://www.kompasiana.com/.../peran-guru-dalam-era-globalisasi_551140bda33311e...

 

9.      https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20161114103402-445-172448/kompetensi-apa-yang-harus-dimiliki-seorang-guru/

 

10.  OECD. 2010. 2009. Matemathics Framework. Paris: PISA, OECD Publishing.